21. Ujian SQ
Alkisah didalam peperang
an antara kaum muslimin dengan orang kafir, salah satu khalifah Nabi Muhammad yaitu Syaidina Ali telah berhasil menjatuhkan lawannya ketanah dengan pedang terlempar sehingga dengan sekali hujaman pedang pasti tewas.
Pada saat Syaidina Ali mengayunkan pedangnya, tiba-tiba musuh tersebut meludah kemukanya untuk melepaskan kebencian pada saat-saat terakhirnya.
Coba kita renungkan sejenak, dalam keadaan seperti ini apa yang akan diperbuat oleh Syaidina Ali tersebut ?.
Sebagian besar dari kita pasti berpendapat, bahwa sambil melampiaskan kemarahannya maka Syaidina Ali akan menghujamkan pedang lebih cepat dan berkali-kali.
Tetapi kenyataannya tidaklah demikian, sebab ludahan musuh tersebut justru menghentikan ayunan pedang Syaidina Ali untuk tidak jadi membunuhnya. Hal ini membuat heran lawan yang sudah tidak berdaya itu dan bertanya : Kenapa engkau tidak jadi membunuhku?
Inilah jawaban Syaidina Ali yang cerdas SQ : Kalau aku membunuhmu maka aku berdosa, sebab aku membunuh dengan kemarahanku (IEQ) dan bukan karena Allah (SQ).
Ujian SQ sering terjadi dalam situasi kritis yang menyangkut hal besar (dalam hal ini menyangkut nyawa) dimana Akal-Perasaan kita tidak sempat merespon, sehingga tindakan yang dilakukan adalah otomatis sebagai cermin Karakter-SQ kita.
Inilah kunci jawaban kenapa kaum muslim dibawah pimpinan Nabi Muhammad pada waktu itu mampu memenangkan perang tak seimbang dan mengalami masa kelimpahan dengan keberhasilan meluaskan kekuasaannya sampai ke daratan Eropa.
Yaitu, mereka berperang dengan SQ cerdas “mengasihi musuhnya” dengan niat benar untuk menyelamatkan dan melepaskan mereka dari ikatan berhalanya, dan bukan karena kemarahan dan kebencian.

