SQ Reformation Center

15. Seberapa Besar Percaya Kita Kepada Tuhan ?

Sebagian besar kita pasti mengaku percaya kepada Tuhan sesuai dengan ajaran agama kita masing-masing. Tetapi didalam kenyataan dan prakteknya tidak mudah untuk melakukan dan membuktikannya didalam kehidupan kita. Sebagai contohnya kita percaya bahwa Tuhan Maha Pelindung, tetapi kita masih sering takut dan khawatir dalam menghadapi kehidupan ini. Pada malam hari sebelum tidur kita sering gelisah dan khawatir tentang pekerjaan dikantor besok hari, tentang tagihan-tagihan keuangan, tentang pergaulan anak remaja kita, tentang ujian sekolah, dan masih banyak lagi.

Pada intinya yang kita takutkan adalah tentang hal atau kejadian “yang akan terjadi” diwaktu yang akan datang, baik segera ataupun dengan jangka waktu. Hal ini menunjukkan kurangnya kadar percaya kita kepada Tuhan, bahwa Dia Yang Maha Pelindung ini sanggup untuk melindungi dan membentengi kita dari serangan masalah apapun yang akan kita hadapi.
Hal “percaya” ini merupakan inti dari pengajaran SQ Reformation, karena dengan “percaya” maka terwujudlah apa yang kita hasratkan. Seperti tersebut didalam Firman Tuhan : “Terjadilah menurut Iman-Percaya mu” (bukan menurut pikiranmu !).Hal “percaya” ini tidak mudah dan tidak bisa diusahakan secara manusiawi dengan akal kita, memang pengertian logika bisa membantu mengatasi sementara tetapi tidak bisa secara permanen. Artinya ketakutan kita akan timbul kembali bila menghadapi masalah yang sama ataupun masalah yang berbeda.
Sebab hal “percaya” ini merupakan karakter atau buah roh yang terprogram didalam dimensi spiritualitas kita, dan hanya potensi SQ yang mampu memahami hal-hal yang akan datang seperti layaknya sebuah radar.
SQ Reformation akan menumbuhkan karakter percaya ini seiring dengan potensi Iman.

12. Siapa Guru Kita ?

Di dalam belajar suatu pengetahuan dan juga didalam mencari solusi permasalahan yang dihadapi, kebanyakan manusia mencari jawaban langsung dari superioritasnya seperti guru, atasan, orang tuanya, atau biasanya mereka langsung mencari referensi dari buku atau internet dan lainnya.
Hal ini kelihatan lumrah dan benar, tetapi sesungguhnya ada dua kesalahan fatal yang dibuat oleh kebanyakan manusia.
Pertama, mereka selalu mengandalkan dan berharap kepada manusia di dalam mencari solusi masalah kehidupannya, walaupun orang tersebut lebih berpengetahuan darinya. Sebab Firman Tuhan mengatakan dengan sangat keras bahwa, “Berharap kepada manusia adalah TERKUTUK !”.  Kenapa demikian ?  Berharap kepada jawaban manusia berarti membatasi potensi kita karena pengetahuan setiap manusia pasti terbatas, begitu juga pengetahuan yang kita dapat tidak akan bisa melebihi guru kita. Sebab EGO manusia selalu membatasi apapun yang diberikan kepada orang lain, termasuk ilmunya. Ini saya sebut dengan “dilema Shaolin”, dimana guru Shaolin selalu menyimpan jurus pamungkasnya untuk tidak diajarkan kepada murid-muridnya karena dia takut dikalahkan dan dibunuh. Inilah yang menyebabkan ilmu kungfu di dunia ini secara turun temurun semakin berkurang.
Kedua, manusia selalu mengandalkan Kecerdasan Akalnya-IQ dulu (melalui referensi buku, internet dll) lebih dari Kecerdasan Spiritualnya-SQ, sehingga sering mendapatkan jawaban yang tidak tuntas atau bahkan salah arah tujuannya.
Seharusnya, Tuhan-lah guru pengajar kita dan hanya kepada-Nya kita berharap. Andalkan SQ sebelum menggunakan IEQ. Dahulukan dan tanyakan kepada-Nya pada setiap pengambilan keputusan sebelum melangkah. Sebab hanya Dia-lah yang Maha Mengetahui untuk mengarahkan dan Maha Kuasa untuk memampukan kita dalam menyelesaikan setiap masalah yang tidak mungkin sekalipun.
Dengan demikian, kita akan mampu memperoleh pengetahuan yang melebihi superioritas dan referensi yang kita baca, sebab Tuhan mengajar setiap hambanya secara pribadi dengan supra-unik.
Pertanyaannya adalah, bagaimana kita bisa mendengar dan mengerti respons dari Tuhan ?. Disinilah SQ Reformation akan menjelaskan pemahaman dan aplikasinya secara praktis.

11. Ego Manusia Baik atau Buruk ?

Mayoritas 90-99% manusia dikuasai oleh egonya, sehingga banyak manusia dengan sebutan “egois” yang selalu mencari atau berorientasi kepada keuntungan diri dan pamrih. Predikat egois tersebut mempunyai konotasi negatif bagi cara pandang hampir semua manusia yang notabene dirinya juga egois. Kebalikannya adalah predikat manusia “mukhlis” yang sangat rohani dan suci yang berorientasi kepada keikhlasan bagi segala keterikatan duniawi sehingga mendapatkan konotasi positif.
Tetapi kalau boleh berpendapat dengan jujur maka manusia egois inilah yang justru banyak menghasilkan karya nyata untuk membangun dunia ini, sedangkan manusia suci ini tidak banyak menghasilkan karya nyata selain hanya mencari kemuliaan diri. Jadi manusia manakah yang baik ?, inilah yang menjadi pertanyaannya.
Ego berasal dari potensi manusiawi (jiwani) manusia yang merupakan sifat dari Tabiat Akal (IQ) dan Rasa (EQ), jadi tanpa ego berarti sekaligus manusia tidak berakal dan berperasaan (bayangkan!). Sedangkan Ikhlas berasal dari potensi ilahi (rohani) manusia yang merupakan Tabiat Ruh (SQ). Tanpa ego maka manusia tidak akan bisa survive didalam kehidupan ini, sebab apapun yang dimilikinya akan diberikannya kepada orang lain termasuk hartanya, pasangan hidupya, bahkan nyawanya atau mati. Sedangkan tanpa keikhlasan maka manusia akan serakah dan ingin memiliki apapun dengan menghalalkan semua cara sehingga merugikan orang lain dan yang lebih parah adalah merugikan dirinya sendiri sebagai effek samping yang harus dibayarnya seperti : kebangkrutan, perceraian, narkoba, atau penyakit permanen. Dengan kata lain “hidup tetapi sesungguhnya mati”.
Kesimpulannya, manusia memerlukan kedua sifat egois dan mukhlis tersebut karena memang sudah ada didalam diri setiap manusia, dan tidak ada yang sia-sia atas segala sesuatu yang diciptakan Tuhan.
Disinilah peran SQ Reformation yang akan mengatur keseimbangan antara sifat egois dan mukhlis dari segi porsi (kadar) dan hirarki (urutan)-nya. Didalam diri setiap pribadi haruslah porsi SQ lebih superior dan mempunyai hirarki lebih tinggi sehingga mampu mengendalikan dan memberdayakan IEQ-nya. Inilah kunci untuk mendapatkan kelimpahan sejati dan menjadikan manusia lebih mulia dari malaikat seperti desain Tuhan sejak awalnya manusia diciptakan.

9. Apa Penyebab Dosa Manusia?

Dosa manusia diawali sejak Adam turun kedunia. Seperti telah dijelaskan didalam semua Kitab Suci, ketika Adam & Hawa masih berada di Firdaus maka Tuhan memberikan aturan bahwa semua buah ditaman tersebut boleh dimakan ‘kecuali’ buah Pohon Pengetahuan yang dilarang. Yang terjadi kemudian adalah justru Adam memakannya, oleh sebab itu dia diusir Tuhan dari Firdaus untuk turun kedunia karena tidak layak menjadi penghuni Firdaus.

Dari peristiwa ini bisa dikaji kenapa Adam diusir kebumi?, maka pastilah karena dia bersalah atau berdosa. Tetapi masalahnya dosa macam apa yang telah Adam perbuat dengan pelanggarannya tersebut?.
Setelah Adam memakan buah Pohon Pengetahuan tersebut maka dia menjadi ‘tahu’ atau ‘mengerti’ akan yang benar dan salah, dengan kata lain Akal atau IQ nya mulai bertumbuh. Kesimpulannya, penyebab dosa adalah Akal kita, Add an Imageseperti tersebut didalam Firman bahwa ‘orang pandai sukar masuk kerajaan sorga’. Sifat dari Akal tersebut adalah makin dilarang maka dia semakin ingin tahu, dan cenderung untuk ‘ngakali’ atau ‘merekayasa’ kebenaran. Maka dibutuhkan SQ yang cerdas untuk mampu mengendalikan IEQ kita, karena makin bertambah umur manusia pasti dosanya semakin besar sebab akalnyalah yang selalu diandalkan.
SQ Reformation akan mencerdaskan SQ yang mampu mengendalikan dan memberdayakan Akal kita.

7. Kenapa Nabi Musa bisa membelah laut ?

Ini adalah pertanyaan yang menarik untuk dikaji. Sebab pada awalnya Nabi Musa dan jutaan umatnya tunduk pada perintah Tuhan untuk meninggalkan Mesir supaya bebas dari status budak dan menuju ketanah perjanjian. Selama perjalanan dipadang gurunpun mereka menuruti panduan Tuhan berupa Tiang Awan (siang) dan Tiang Api (malam), tetapi anehnya justru mereka dibawa kearah laut merah atau jalan buntu. Anehnya lagi Tuhan mengeraskan hati Firaun yang semula mengizinkan umat Nabi Musa untuk pergi, tetapi akhirnya berbalik untuk mengejar dan membunuh umat Nabi Musa. Dan seperti sudah diceritakan didalam Kitab Suci bahwa Nabi Musa dengan mengayunkan tongkatnya atas perintah Tuhan berhasil membelah laut tersebut sebagai jalan keluar.

Pertanyaannya adalah kenapa Nabi Musa berhasil membelah laut ?. Inilah kehebatan potensi SQ yang mampu mewujudkan mukjizat. Tetapi sering kali potensi SQ tersebut baru muncul karena IQ dan EQ yang sudah tidak berdaya karena tertekan dan tidak punya solusi. Keadaan terpepet laut didepan ditambah rasa takut dibunuh oleh tentara Firaun dibelakang, akhirnya memicu SQ Nabi Musa untuk ‘percaya’ bahwa ayunan tongkatnya akan mampu membelah laut. Inilah poin-nya !!. Dan terjadilah seperti apa yang ‘dipercaya’ oleh imannya dan bukan apa yang ‘dipikir’ oleh akalnya.

Memang mukjizat itu datang dari Kuasa Tuhan, tetapi tanpa SQ yang aktif (cerdas) sebagai aksesnya maka mustahil mukjizat itu bisa menjadi kenyataan.

Pertanyaan selanjutnya adalah : Sudah mampukah kita membelah laut-laut masalah kehidupan kita ??.  SQ Reformation adalah jawabannya

5. Visi-Motivasi Iman

Potensi Iman ini sudah built-in terprogram didalam diri setiap manusia dan tepatnya didalam rohnya, tetapi potensi iman ini tidak dikenali dan dimanfaatkan oleh sebagian besar manusia sebab mereka tidak memahaminya. Bagai salah satu fitur di dalam HP (handphone) yang tidak pernah dioperasikan oleh pemakainya padahal fitur tersebut sangat bermanfaat dan penting bagi sipemakai, dan harga HP tersebut menjadi mahal oleh karena ada satu fitur tersebut didalamnya. Potensi Iman ini tidak tergali justru diakibatkan karena manusia selalu dan lebih mengandalkan potensi akalnya didalam menyelesaikan setiap permasalahan kehidupannya.

“Bila mengandalkan akal akan mendapatkan keuntungan sebesar kemampuan akal yang terbatas, bila mengandalkan Tuhan dengan Iman akan mendapatkan berkat sebesar Kuasa-Nya yang tidak terbatas”.
Masalahnya adalah : Bahwa kebenaran Logika Akal adalah merupakan kebodohan bagi Keyakinan Iman dan demikian sebaliknya, sehingga manusia jarang bisa menggali potensi Imannya karena bertentangan dengan logika akalnya.
Padahal potensi Iman ini sangat luar biasa dan seperti dijelaskan di dalam Kitab Suci bahwa banyak para Nabi dan Rasul yang memafaatkan potensi imannya sehingga menghasilkan karya yang luar biasa “supra rasio-emosional”. Seperti beberapa contoh : Nabi Musa membelah laut, Nabi Isa menyembuhkan orang buta dan lepra, Nabi Muhammad memenangkan perang yang tak seimbang.
Bentuk Iman ini berupa Visi yang supra-tinggi (supra rasio-emosional) dan Motivasi yang supra-konsisten sehingga mampu membawa kerinduan hasrat setiap manusia sampai terwujud nyata.
SQ Reformation akan membimbing bagaimana memberdayakan potensi Iman ini.

Kesaksian pribadi potensi Iman :

Saya menderita penyakit batuk bronchitis kronis selama 28 tahun dimana penyakit ini sembuh dan kambuh lagi dan semakin lama makin bertambah parah. Dengan mengandalkan potensi akal maka selama itu saya mencari jalan keluar melalui cara medis dengan melalui banyak dokter terbaik, laboratorium dengan terapi kusus tercanggih, dan obat-obatan terkini. Tetapi itu semua tanpa hasil dan bahkan obat antibiotik mutakhir dosis tunggal juga sudah tidak mempan lagi.
Setelah melalui “proses” reformasi kecerdasan spiritual dan potensi Iman saya mulai bertumbuh, maka pada suatu hari saya mendapat “rema pewahyuan” ketika mendengar kebenaran Firman dari seorang hamba Tuhan. Rema tersebut adalah : bahwa makan sayur dapat meningkatkan daya tahan tubuh.
Memang pernyataan tersebut kelihatan sangat biasa dan umum, tetapi bagi saya saat itu merupakan rema yang membentuk Iman yang sangat kuat bahwa inilah solusi pasti dari batuk saya !. Singkatnya, kemudian saya minum jus sayur mentah setiap hari dengan menikmatinya (banyak orang muntah meminumnya), dan penyakit batuk brinchitis saya sembuh secara permanen sampai sekarang tanpa obat dokter.
Perlu dipahami tentang prinsip Iman disini bahwa penyebab kesembuhan disini bukanlah sayur tersebut, sebab banyak orang makan sayur tetapi tidak menyembuhkan penyakitnya. Sayur tersebut hanya merupakan salah satu media dari Iman (bisa apapun bentuk medianya). Penyebab hakikinya adalah potensi Iman yang terbangkitkan oleh rema pewahyuan itulah yang punya kuasa penyembuhan, sebab Kuasa Tuhan tersalurkan olehnya.

SQ Reformation Center