Posted by admin on February 3, 2010 · Leave a Comment
Apa sesungguhnya sumber kesombongan dan kemunafikan itu ?.
Pertanyaan ini sangat penting untuk difahami supaya kita bisa terhindar dari kedua hal yang sangat merugikan kehidupan manusia tersebut.
Informasi yang masuk dan diketahui oleh akal disebut pengetahuan, sesungguhnya pengetahuan tersebut belum nyata atau hanya teori yang justru membebani akal sebelum manfaatnya dikecap dan dialami oleh diri sendiri. Apalagi bila kita dengan bangga diri memberitakannya kepada orang lain sebelum kita sendiri yakin bahwa yang kita ketahui itu benar adanya, atau dengan kata lain me-reka reka.
Ketika IEQ kita merasa “sudah tahu” akan suatu pengetahuan itulah sumber kesombongan dan kemunafikan bagi SQ sebelum kita sendiri menjadi pelakunya.
Sering kali hanya dengan menerima suatu informasi dari sumber media seperti buku, majalah, koran, radio, televisi, ataupun kata orang, maka akal kita langsung menganggapnya sebagai kebenaran kita sendiri. Inilah sumber kesombongan dan kemunafikan itu, yaitu memberitakan sesuatu yang belum kita alami sendiri, artinya apa yang kita katakan belum tentu sama dengan yang kita lakukan.
Jadi apakah kita tidak boleh menceritakan kepada orang lain akan apa yang kita ketahui (apalagi yang bermanfaat) sebelum kita sendiri melihat dan mengalamiya ?. Boleh saja !. Tetapi masalahnya yang bisa membedakan hal itu sebagai kesombongan-kemunafikan atau bukan hanyalah SQ yang cerdas, maka sebaiknya kita berhati hati.
Kenapa kesombongan dan kemunafikan ini sangat merugikan ?. Sebab ini merupakan karakter negatif (tabiat jaim) penyebab kebocoran dari wadah kelimpahan, sehingga berkat Tuhan yang tercurahkan tidak tertampung secara efektif.
SQ Reformation akan menutup kebocoran ini secara efektif dan permanen.
Posted by admin on January 8, 2010 · Leave a Comment
Kita semua pasti pernah mengalami apa yang disebut dengan istilah Telmi “telat mikir”ini, yaitu suatu kondisi dimana Akal-IQ kita terlambat menangkap informasi (dari manusia) yang datang melalui panca indra. Seperti yang sering terjadi ketika sedang dalam percakapan dengan orang lain dalam kelompok, tiba-tiba kita kehilangan topik pembicaraan dan mereka semua menertawai dan menegur kita : Kamu Telmi sih !.
Disamping Telmi saya punya istilah baru yaitu Telsi “telat spiritual”, ini terjadi apabila Spiritual-SQ kita terlambat menangkap informasi (dari Tuhan) melalui perangkat Iman. Sementara waktu (bisa pendek atau panjang) kita tidak bisa menyadarinya karena tidak ada tanda dari teguran manusia lainnya secara langsung. Sampai akhirnya keterlambatan informasi spiritual tersebut terwujud menjadi kenyataan, yaitu nasib dan takdir buruk (atau baik) kita.
Akibat Telmi mungkin hanya ditertawai orang, tetapi Telsi berdampak sangat fatal didalam kehidupan yang dialami oleh sebagian besar manusia sebagai akibat dari SQ rendah. Seperti terjadinya penyakit tak tersembuhkan, keretakan hubungan tak terpulihkan, kebangkrutan finansial tak teratasi, lamaran pekerjaan tak diterima, jodoh tak kunjung datang, dan masih banyak nasib buruk lainnya.
Seperti terkisah didalam Kitab Suci bahwa sebelum Adam memakan buah pohon pengetahuan yang terlarang ; Tuhan Berfirman : “Pada hari engkau memakannya maka engkau pasti mati !”. Dalam hal ini Tuhan bicara melalui SQ Adam bahwa hari itu juga dia akan mati ketika memakannya. Tetapi kenapa dalam kenyataannya, setelah makan buah tersebut Adam masih hidup terus dan baru mati setelah 930 tahun kemudian ?. Inilah prinsip takdir (kepastian) yang sudah ditetapkan secara dini 930 tahun sebelumnya dan hanya SQ yang mampu memahaminya. Sebab apabila Adam tidak makan buah pohon terlarang tersebut maka dia akan hidup langgeng di Firdaus dan tidak akan pernah mati.
Ilustrasi ini mengajar kita bahwa kepekaan potensi Manusiawi-IEQ sangatlah rendah dibanding kepekaan potensi Ilahi-SQ, sebab sesungguhnya Tuhan selalu “berbicara” kepada setiap manusia dengan memberikan informasi dini yang sangat penting tetapi jarang manusia mampu memahaminya. Akibatnya, manusia jarang bisa mengendalikan nasib dan takdirnya.
Posted by admin on December 28, 2009 · Leave a Comment
Kerendahan hati adalah salah satu dari dua puluh sembilan karakter spesifik bagian dari Tabiat Karakter SQ (disamping 29 Tabiat Kepribadian EQ dan 29 Tabiat Jaim IQ). Ini adalah karakter penting pertama yang harus dipunyai sebagai pintu gerbang pembuka karakter lainnya, pembuka dalam belajar dan menguasai segala sesuatu, dan akhirnya pembuka pintu gerbang kelimpahan kita.
Kerendahan hati adalah strategi yang paling ampuh untuk maju, bagaikan tentara yang merendahkan tubuhnya untuk tiarap menghindari tembakan musuh sambil terus maju. Makin rendah posisi tubuhnya maka makin aman dan makin cepat bisa melaju, bayangkan kalau sambil berdiri (kesombongan atau tinggi hati) tentara itu maju maka akan dengan mudah menjadi sasaran peluru musuh.
Karakter ‘rendah hati’ pada dimensi SQ ini memancar dari Otak God Spot manusia dengan energi yang sangat tinggi sehingga mampu mengubah Kepribadian ‘rendah diri’ dimensi EQ serta mematikan Jaim ‘kesombongan’ dimensi IQ. Potensi energi dan frekwensi gelombang kerendahan hati inilah yang mampu menembus dan membuka gerbang sorgawi untuk mengakses kelimpahan sejati.
Kerendahan hati adalah sikap memandang hal dan orang lain tidak lebih rendah dari dirinya. Memandang kepada yang lebih miskin, lebih rendah kedudukannya, lebih rendah pendidikannya, lebih muda, tidak merasa ‘sudah tahu’ dalam mempelajari sesuatu, tidak menganggap sepele kepada hal yang sekecil dan sesederhana apapun.
Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi pun dengan kerendahan hati-Nya sudi untuk turun kedunia ini melalui Firman-Nya untuk menyapa dan menyelamatkan manusia yang paling rendah yaitu orang berdosa, maka kenapa kebanyakan kita tidak demikian ? Pribadi rendah hati inilah yang memperkenan Tuhan untuk mendapatkan kunci pembuka sumber berkat kelimpahan-Nya.
Karakter rendah hati yang permanen dan konsisten sangat sulit atau bahkan tidak bisa diusahakan dengan kemampuan manusiawi. SQ Reformation akan memandu pemahaman dan penerapannya secara praktis.
Posted by admin on December 25, 2009 · Leave a Comment

Di dalam belajar suatu pengetahuan dan juga didalam mencari solusi permasalahan yang dihadapi, kebanyakan manusia mencari jawaban langsung dari superioritasnya seperti guru, atasan, orang tuanya, atau biasanya mereka langsung mencari referensi dari buku atau internet dan lainnya.
Hal ini kelihatan lumrah dan benar, tetapi sesungguhnya ada dua kesalahan fatal yang dibuat oleh kebanyakan manusia.
Pertama, mereka selalu mengandalkan dan berharap kepada manusia di dalam mencari solusi masalah kehidupannya, walaupun orang tersebut lebih berpengetahuan darinya. Sebab Firman Tuhan mengatakan dengan sangat keras bahwa, “Berharap kepada manusia adalah TERKUTUK !”. Kenapa demikian ? Berharap kepada jawaban manusia berarti membatasi potensi kita karena pengetahuan setiap manusia pasti terbatas, begitu juga pengetahuan yang kita dapat tidak akan bisa melebihi guru kita. Sebab EGO manusia selalu membatasi apapun yang diberikan kepada orang lain, termasuk ilmunya. Ini saya sebut dengan “dilema Shaolin”, dimana guru Shaolin selalu menyimpan jurus pamungkasnya untuk tidak diajarkan kepada murid-muridnya karena dia takut dikalahkan dan dibunuh. Inilah yang menyebabkan ilmu kungfu di dunia ini secara turun temurun semakin berkurang.
Kedua, manusia selalu mengandalkan Kecerdasan Akalnya-IQ dulu (melalui referensi buku, internet dll) lebih dari Kecerdasan Spiritualnya-SQ, sehingga sering mendapatkan jawaban yang tidak tuntas atau bahkan salah arah tujuannya.
Seharusnya, Tuhan-lah guru pengajar kita dan hanya kepada-Nya kita berharap. Andalkan SQ sebelum menggunakan IEQ. Dahulukan dan tanyakan kepada-Nya pada setiap pengambilan keputusan sebelum melangkah. Sebab hanya Dia-lah yang Maha Mengetahui untuk mengarahkan dan Maha Kuasa untuk memampukan kita dalam menyelesaikan setiap masalah yang tidak mungkin sekalipun.
Dengan demikian, kita akan mampu memperoleh pengetahuan yang melebihi superioritas dan referensi yang kita baca, sebab Tuhan mengajar setiap hambanya secara pribadi dengan supra-unik.
Pertanyaannya adalah, bagaimana kita bisa mendengar dan mengerti respons dari Tuhan ?. Disinilah SQ Reformation akan menjelaskan pemahaman dan aplikasinya secara praktis.
Posted by admin on December 22, 2009 · Leave a Comment

Mayoritas 90-99% manusia dikuasai oleh egonya, sehingga banyak manusia dengan sebutan “egois” yang selalu mencari atau berorientasi kepada keuntungan diri dan pamrih. Predikat egois tersebut mempunyai konotasi negatif bagi cara pandang hampir semua manusia yang notabene dirinya juga egois. Kebalikannya adalah predikat manusia “mukhlis” yang sangat rohani dan suci yang berorientasi kepada keikhlasan bagi segala keterikatan duniawi sehingga mendapatkan konotasi positif.
Tetapi kalau boleh berpendapat dengan jujur maka manusia egois inilah yang justru banyak menghasilkan karya nyata untuk membangun dunia ini, sedangkan manusia suci ini tidak banyak menghasilkan karya nyata selain hanya mencari kemuliaan diri. Jadi manusia manakah yang baik ?, inilah yang menjadi pertanyaannya.
Ego berasal dari potensi manusiawi (jiwani) manusia yang merupakan sifat dari Tabiat Akal (IQ) dan Rasa (EQ), jadi tanpa ego berarti sekaligus manusia tidak berakal dan berperasaan (bayangkan!). Sedangkan Ikhlas berasal dari potensi ilahi (rohani) manusia yang merupakan Tabiat Ruh (SQ). Tanpa ego maka manusia tidak akan bisa survive didalam kehidupan ini, sebab apapun yang dimilikinya akan diberikannya kepada orang lain termasuk hartanya, pasangan hidupya, bahkan nyawanya atau mati. Sedangkan tanpa keikhlasan maka manusia akan serakah dan ingin memiliki apapun dengan menghalalkan semua cara sehingga merugikan orang lain dan yang lebih parah adalah merugikan dirinya sendiri sebagai effek samping yang harus dibayarnya seperti : kebangkrutan, perceraian, narkoba, atau penyakit permanen. Dengan kata lain “hidup tetapi sesungguhnya mati”.
Kesimpulannya, manusia memerlukan kedua sifat egois dan mukhlis tersebut karena memang sudah ada didalam diri setiap manusia, dan tidak ada yang sia-sia atas segala sesuatu yang diciptakan Tuhan.
Disinilah peran SQ Reformation yang akan mengatur keseimbangan antara sifat egois dan mukhlis dari segi porsi (kadar) dan hirarki (urutan)-nya. Didalam diri setiap pribadi haruslah porsi SQ lebih superior dan mempunyai hirarki lebih tinggi sehingga mampu mengendalikan dan memberdayakan IEQ-nya. Inilah kunci untuk mendapatkan kelimpahan sejati dan menjadikan manusia lebih mulia dari malaikat seperti desain Tuhan sejak awalnya manusia diciptakan.
Posted by admin on December 9, 2009 · Leave a Comment
Ini adalah kisah nyata. Ada seorang dokter spesialis merasakan akhir-akhir ini kondisi tubuhnya kurang sehat. Sebagai seorang profesional di bidang tersebut dia memutuskan untuk ‘mencari’ sumber penyakitnya ada di mana. Pergilah dia ke rumah sakit di luar negeri, tetapi tidak ditemukan kelainan apapun. Dokter tersebut masih kurang puas, kenapa penyakitnya tidak ada (?). Sehingga dia pindah ke rumah sakit lain yang mempunyai peralatan tercanggih untuk melakukan observasi total terhadap dirinya. Akhirnya ditemukan benjolan kecil terbungkus lemak di levernya, maka begitu puaslah dokter tersebut (?). Kemudian dengan penuh percaya ‘akal’ diri dia minta supaya bagian benjol levernya dipotong. Dan yang terjadi adalah, dokter tersebut meninggal tiga bulan kemudian.
Inilah cara berpikir yang kelihatannya benar tetapi sesungguhnya salah. Kesalahannya adalah dia berfokus pada ‘penyakit’ dan bukan ‘sehat’, sehingga terjadilah apa yang terus menerus dia pikirkan. Dia puas kalau penyakitnya ada (sakit) dan tidak puas kalau penyakitnya tidak ada (sehat), ini sungguh cara berpikir yang salah dan terbalik ! Penyakitnya makin parah karena setiap hari dia khawatir (zikir tentang hal negatif) sehingga tubuhnya memproduksi hormon negatif yang menurunkan kekebalan tubuhnya. Seharusnya dia bersyukur saat penyakitnya tidak ditemukan sehingga hormon positif terproduksi untuk menaikkan kekebalan tubuhnya yang mampu menyembuhkan benjolan dini tersebut.
SQ Reformation akan meluruskan cara berpikir IQ yang terbalik ini secara permanen.
Posted by admin on November 27, 2009 · Leave a Comment
Potensi Iman ini sudah built-in terprogram didalam diri setiap manusia dan tepatnya didalam rohnya, tetapi potensi iman ini tidak dikenali dan dimanfaatkan oleh sebagian besar manusia sebab mereka tidak memahaminya. Bagai salah satu fitur di dalam HP (handphone) yang tidak pernah dioperasikan oleh pemakainya padahal fitur tersebut sangat bermanfaat dan penting bagi sipemakai, dan harga HP tersebut menjadi mahal oleh karena ada satu fitur tersebut didalamnya. Potensi Iman ini tidak tergali justru diakibatkan karena manusia selalu dan lebih mengandalkan potensi akalnya didalam menyelesaikan setiap permasalahan kehidupannya.
“Bila mengandalkan akal akan mendapatkan keuntungan sebesar kemampuan akal yang terbatas, bila mengandalkan Tuhan dengan Iman akan mendapatkan berkat sebesar Kuasa-Nya yang tidak terbatas”.
Masalahnya adalah : Bahwa kebenaran Logika Akal adalah merupakan kebodohan bagi Keyakinan Iman dan demikian sebaliknya, sehingga manusia jarang bisa menggali potensi Imannya karena bertentangan dengan logika akalnya.
Padahal potensi Iman ini sangat luar biasa dan seperti dijelaskan di dalam Kitab Suci bahwa banyak para Nabi dan Rasul yang memafaatkan potensi imannya sehingga menghasilkan karya yang luar biasa “supra rasio-emosional”. Seperti beberapa contoh : Nabi Musa membelah laut, Nabi Isa menyembuhkan orang buta dan lepra, Nabi Muhammad memenangkan perang yang tak seimbang.
Bentuk Iman ini berupa Visi yang supra-tinggi (supra rasio-emosional) dan Motivasi yang supra-konsisten sehingga mampu membawa kerinduan hasrat setiap manusia sampai terwujud nyata.
SQ Reformation akan membimbing bagaimana memberdayakan potensi Iman ini.
Kesaksian pribadi potensi Iman :
Saya menderita penyakit b

atuk bronchitis kronis selama 28 tahun dimana penyakit ini sembuh dan kambuh lagi dan semakin lama makin bertambah parah. Dengan mengandalkan potensi akal maka selama itu saya mencari jalan keluar melalui cara medis dengan melalui banyak dokter terbaik, laboratorium dengan terapi kusus tercanggih, dan obat-obatan terkini. Tetapi itu semua tanpa hasil dan bahkan obat antibiotik mutakhir dosis tunggal juga sudah tidak mempan lagi.
Setelah melalui “proses” reformasi kecerdasan spiritual dan potensi Iman saya mulai bertumbuh, maka pada suatu hari saya mendapat “rema pewahyuan” ketika mendengar kebenaran Firman dari seorang hamba Tuhan. Rema tersebut adalah : bahwa makan sayur dapat meningkatkan daya tahan tubuh.
Memang pernyataan tersebut kelihatan sangat biasa dan umum, tetapi bagi saya saat itu merupakan rema yang membentuk Iman yang sangat kuat bahwa inilah solusi pasti dari batuk saya !. Singkatnya, kemudian saya minum jus sayur mentah setiap hari dengan menikmatinya (banyak orang muntah meminumnya), dan penyakit batuk brinchitis saya sembuh secara permanen sampai sekarang tanpa obat dokter.
Perlu dipahami tentang prinsip Iman disini bahwa penyebab kesembuhan disini bukanlah sayur tersebut, sebab banyak orang makan sayur tetapi tidak menyembuhkan penyakitnya. Sayur tersebut hanya merupakan salah satu media dari Iman (bisa apapun bentuk medianya). Penyebab hakikinya adalah potensi Iman yang terbangkitkan oleh rema pewahyuan itulah yang punya kuasa penyembuhan, sebab Kuasa Tuhan tersalurkan olehnya.
Posted by admin on November 26, 2009 · Leave a Comment
Genius Hakiki adalah Pribadi Pilihan Tuhan. Pribadi ini berkarakter dewasa plus potensi Imannya sudahbertumbuh sehingga mempunyai Pikiran Pemenang yang sangat spesial yang lain dari cara berpikir manusia pada umumnya yaitu Pikiran Penyangkal yang hanya menyesali nasib dan Pikiran Pecundang yang hanya menerima nasib.
Pikiran Pemenang mampu mengubah keadaan dan tidak ada kata “tidak mungkin” baginya. Pribadi Genius Hakiki inilah yang dianugerahi kuasa didalam mengendalikan nasib dan takdir kehidupannya melalui proses penciptaan kelimpahan sejati.
Konsep “kebetulan” adalah salah menurut cara berpikir pemenang, sebab semua kejadian diseluruh jagat raya ini adalah atas pengetahuan dan desain Tuhan sejak awalnya, jadi bukan kebetulan. Artinya, nasib/takdir tersebut seharusnya bisa dikendalikan dari penyebab awalnya bagi pribadi Genius Hakiki.
SQ Reformation akan membentuk Pribadi Genius Hakiki ini.
Kesaksian pribadi Pikiran Pemenang :
Ini adalah salah satu contoh dari banyak kesaksian sederhana saya. Saat mau potong rambut dengan pemotong rambut langganan saya, setelah saya sampai di salon ternyata dia tidak masuk kerja karena pulang kampung hingga minggu depan. Kemudian saya memutuskan untuk kembali pulang ke rumah sambil masih membawa hasrat potong rambut itu karena akan terlalu gerah kalau harus ditunda.
Di tengah perjalanan tiba-tiba ada hasrat untuk kembali lagi kesalon tersebut karena wajah si pemotong rambut itu tercitra begitu jelas di benak pikiran saya. Sejenak akal saya mengatakan tidak mungkin !, dan juga saya malas untuk kembali lagi karena memang sudah jelas kalau dia tidak bekerja hari ini. Tetapi pikiran pemenang itu terus mendorong saya dengan sangat kuat sehingga saya mau membalikkan arah mobil saya.
Dan apa yang terjadi? Ternyata pemotong rambut itu sudah ada di sana sedang bekerja !